Kamis, Februari 20, 2014

Frekuensi 700 Mhz Negara Maju dan Indonesia

Illustration by Koreaherald
When developed countries in the near future are already planning to use the 700 MHz frequency allocation used for UHD broadcasting or telecommunications technology to provide better services for Long Term Evolution and LTE-Advanced technology.

Indonesia began to catch up with the regulations under discussion, the government may be more equitable utilize 700 MHz frequency is not only to utilize the telecommunications but also to the people, in this case for the future of broadcasting technology.

The higher frequencies are used, the greater the infestation to be issued. Low frequencies such as 700 MHz is also able to reach a wider area because it requires less transmitting tower and can penetrate buildings in urban areas as well as the range of frequencies even further to rural areas in Indonesia. (Mohamad Iqbal)

Baca jejak selanjutnya......

Sabtu, Oktober 20, 2012

Perbandingan Antara Unified Process (UP), Extreme Programming (XP), Agile Module, dan Scrum of The more Adaptive Approaches

Alhamdulillah ketika kuliah RPLL pascasarjana saya pernah dapat tugas bahan perbandingan metode pemograman, mungkin sahabat bisa menjadikan tabel ini sebagai referensi...selamat berekspresi...


No
Pendekatan Adaptif
Perbandingan
Kekurangan
Kelebihan
1.
Agile Modeling
1.      Faktor manusia sangat mempengaruhi proses kerja baik dari segi kompetensi.
2.      Fokus kerja tim sangat menentukan keberhasilan sebuah pekerjaan.
3.      Kolaborasi tim baik secara horizontal dengan sesama tim maupun vertikal dengan atasan.
4.      Kemampuan mengambil keputusan, menajemen waktu personil.
5.      Memerlukan kelincahan - mampu mengubah arah dengan cepat, bahkan di tengah-tengah proyek

1.      Berorientasi klien prioritas utama dengan menghasilkan produk lebih awal dan terus menerus
2.      Suatu metodologi yang praktis untuk dokumentasi dan pemodelan system software.
3.      Pembagian masalah menjadi sel sel kecil agar mempermudah proses pengerjaan.
4.      Mengurangi resiko kesalahan teknis dengan adanya komunikasi antar developer dan juga dengan stakeholder. Setiap developer juga berkerja dengan user stories yang akibatnya, banyak developer yang menyentuh code satu sama lain. Ini memiliki efek positif, karena secara natural kode akan di-review satu sama lain dan secara konstan ter-refaktor.
5.      Di setiap saat, stakeholder/scrummaster(xp coach) bisa melihat burn down chart/velocity untuk melihat produktivitas team.
6.      Kapanpun stakeholder dapat melihat progress user story yang sudah ditutup dan sedang dilaksanakan.
7.      Menggunakan pendekatan berorientasi objek.

2.
XP (Extreme Programming)
1.      Developer harus selalu siap dengan perubahan karena perubahan akan selalu diterima.
2.      Tidak bisa membuat kode yang detail di awal (prinsip simplicity dan juga anjuran untuk melakukan apa yang diperlukan hari itu juga).
1.      Komunikasi menjadi hal yang sangat menentukan dalam sebuah tim pengembangan software. Kegagalan komunikasi antar pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengembangan software pastinya akan menimbulkan masalah-masalah yg tidak diinginkan seperti: proses bisnis yang dibuat tidak sesuai, anggota tim menghadapi masalah yg tidak bisa diselesaikan, atasan mendapatkan laporan kejutan sehari sebelum deadline, dsb. Pihak-pihak yang berkepentingan (selanjutnya disebut Role) dalam hal ini mencakup: programmer, customer, coach, tracker, tester, consultant, big boss (penjelasan rinci tentang masing-masing role dapat dibaca di buku Extreme Programming Explained).
2.      Kesederhanaan mengacu pada desain sistem yang akan dibuat. Berlawanan dengan disiplin software development lainnya, XP menganjurkan desain yang berevolusi sepanjang proses pengembangan. Seringkali programmer berpikir terlalu kompleks dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Pada saat yang lain mereka berpikir bagaimana supaya sistem menjadi fleksibel untuk masa depan. Dalam mengambil keputusan demikian biasanya hanya berdasar pada spekulasi saja, di mana pada akhirnya perkiraan tersebut meleset, sistem tidak pernah diuntungkan dengan desain fleksibel yang super kompleks tersebut. Satu prinsip yang berkaitan dengan ini adalah “You aren’t gonna need it“, di mana sangat dianjurkan agar dalam membangun sesuatu terlebih dahulu kita memastikan bahwa hal ini memang dibutuhkan.
3.      Umpan balik diperlukan untuk mengetahui kemajuan dari proses dan kualitas dari aplikasi yang dibangun. Informasi ini harus dikumpulkan setiap interval waktu yang singkat secara konsisten. Ini dimaksudkan agar hal-hal yang menjadi masalah dalam proses pengembangan dapat diketahui sedini mungkin dan customer dapat membuat keputusan berdasarkan informasi tersebut.
4.      Keberanian. Ini merupakan nilai yang menjadi katalisator bagi ketiga nilai sebelumnya. Keberanian diperlukan untuk mengatakan bahwa target deadline yang diinginkan customer tidak mungkin tercapai, untuk mengambil keputusan saat code yang sudah dibuat ternyata harus dibuang karena kesalahan informasi.

3.
Scrum
1.      Proses pengembangan menjadi kompleks dan sulit diprediksi.
2.      Tidak menyarankan anggota tim untuk melakukan beberapa project.

1.      Berfokus pada bagaimana fungsi anggota tim untuk menghasilkan sistem yang fleksibel pada perubahan requirements yang konstan.
2.      melakukan pengembangan dengan melibatkan variabel teknis dan lingkungan yang sangat mungkin untuk berubah selama pengembangan perangkat lunak tersebut.
3.      Mengharuskan semua anggota tim fokus terhadap pekerjaan.
4.      Tidak mengharuskan sumberdaya tim yang banyak.
4.
UP (Unified Process)
1.      Hanya dapat digunakan pada pemograman berorientasi objek.
2.      Bergantung dengan model UML.
3.      Tidak semua disiplin ilmu dapat digunakan menggunakan metode pendekatan UP (Unified Process).
1.      Dalam pengembangan project elemen kerja dapat disesuaikan sesuai kebutuhan tim.
2.      Low maintenance cost
3.      Dapat menghasilkan kualitas sistem yang baik.
4.      mengatur dan memonitor semua proses dari semua tahapan yang ada sehingga suatu pengembangan sistem informasi yang amat kompleks dapat dilakukan dengan aman dan sesuai dengan harapan semua manajer proyek
5.      dapat memanfaatkan kembali komponen-komponen yang telah tersedia/dibuat sehingga dapat meningkatkan produktifitas.
6.      Menggunakan pendekatan interaktif untuk pengembangan sistem.
7.      Pemodelan bisnis, persyaratan, desain, implementasi, pengujian, dan penyebaran
Tiga disiplin dukungan tambahan
Manajemen proyek, konfigurasi dan manajemen perubahan, dan lingkungan






Daftar Pustaka :

Barry E. Cushing, (2003), Sistem Informasi, Diterjemahkan Oleh Teguh Wahyuno, Graha ilmu, Yogyakarta.
Jogiyanto, HM (1995), Analisa Dan sistem Informasi Manajemen Pendekatan Terstruktur, Teori Dan Aplikasi Bisnis, Edisi Keempat, Andi Offset, Yogyakarta.
Kenneth C. Laudon, (2005), Sistem Informasi Manajemen, Andi Publiser Yogyakarta
Santosa, Budi (2007), Data Mining, Teknik Pemanfaatan Data untu Keperluan Bisnis, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Satziger J, Jackson R, Burd S (2010), System dan Analysis Design In A Changing World, Course Technology, Boston USA.

Baca jejak selanjutnya......

Selasa, Juni 29, 2010

Hidup adalah perlombaan

sejak kecil aku memahami bahwa hidup adalah perlombaan, jika kau tak berlari cepat maka orang lain akan merebut peluang..subhanallah untuk lahir saja aku harus mengalahkan lebih dari tiga ratus juta sperma yang lain hehehe

Baca jejak selanjutnya......